Senin, 16 September 2019

Surabaya, September 2019.
    Surabaya Utara khususnya kecamatan Semampir warganya sangat heterogen, ada suku Jawa, Madura, Padang, Papua dan lainnya bahkan ada etnis China dan Arab.     Tidak heran kalau surabaya dihuni berbagi suku dari penjuru negeri bahkan mancanegara, karena sejak masa kerajaan sampai masa penjajahan Surabaya sudah dikenal sebagai kota perdagangan dan pendidikan. Surabaya juga dikenal dengan sebutan INDAMARDI yaitu Industri, Dagang, Maritim dan Pendidikan.
    Dari berbagai suku yang ada maka beragam pula kebudayaan dan agama yang dianut masyarakat nya, dengan keragaman masyarakat maka beragam pula jenis masakan dan makanan, bahkan Surabaya terkenal dengan kulinernya yang lezat dan murah.
    keberagaman yang ada tidak lantas membuat masyarakatnya terkotak kotak.
Kebersamaan dalam kehidupan sehari-hari sudah tidak perlu disangsikan lagi, satu sama lainnya saling menghargai.
Bahkan pernikahan antar suku membuat mereka  tidak lagi mengedepankan kesukuannya,mereka merasa saya orang Surabaya.
   Karakteristik warga Surabaya yang humanis ditambah gaya bahasa suroboyoan yang mudah dicerna menjadikan pembicaraan cepat akrab.
Selain kuliner dan bahasa suroboyoan, Surabaya juga punya beberapa destinasi wisata yang terkenal bahkan sampai manca negara, sebut saja wisata religi sunan Ampel, setiap hari tidak kurang dari 300 sampai 500 orang yang datang ke makam sunan Ampel.
Belum lagi kalau hari libur atau hari  hari besar Islam pengunjungnya bisa empat kali lipat sampai lima kali lipat.
Yang datang ke makam sunan Ampel bukan hanya wisatawan dari Jawa timur sendiri, mulai dari Aceh sampai Papua ada yang datang, bahkan wisatawan asing pun banyak yang datang.

 

Senin, 9 September 2019

   Setelah kemarin belajar  bikin blog bersama bunda Tri dan dibantu cak Suwardi dari KIM Pelangi serta ketua KIM SURABAYA bertempat di BLC taman flora.
Dengan penuh keseriusan mencoba memahami apa yang diajarkan oleh "suhu". Menjelang dhuhur selesai sudah blog untuk kelurahan ujung dengan alamat KIM UJUNG SEJAHTERA 6.
   Karena faktor U yang memang tidak bisa dibohongi, apa yang sudah didapat dari para tutor yang hebat  sesampainya dirumah banyak yang lupa. Sempat putus asa karena yang diajarkan banyak yang lupa.
Tapi faktor kepingin bisa yang besar serta melek IT yang membuat tidak ada kata "tidak bisa",  selama ada kemauan saya yakin pasti ada jalan keluar nya. Karena yang namanya belajar itu  "tidak  dihanya sekolah" saya beranggapan semua tempat adalah sekolah dan semua  orang adalah guru. Saya tidak akan malu untuk belajar kepada anak kecil sekalipun.
   Dan ini tulisan pertamaku di laman blog, masih jauh dari kata sempurna yang saya sampaikan dalam tulisan ini. Untuk itu saya mohon bimbingan dan pengarahan dari para "suhu" KIM SURABAYA.
Sekian